Es Krim (Part 2)

Cerpen Karangan: Pertiwi
Kategori: Cerpen Cinta Romantis

Pagi ini aku dan Winda berangkat ke kampus bersama, pelajaran 3 sks berjalan seperti biasa. “makan yok Tif? Laper banget nih” ajak Winda. “kantin klise aja ya?” tawarku

Kami menuju ke kantin
Pesanan datang dan kami pun melahapnya dengan semangat sambil bercerita mengenai hal-hal yang seru untuk dibahas. Aku dan Winda tak pernah kehabisan bahan cerita, ada saja yang diceritakan dan tentang lelaki itu aku pun telah menceritakannya pada Winda kemarin saat Winda menginap di rumahku.

“hallo nona es krim” sapa seorang lelaki yang tiba-tiba ada di sebelahku
“kau? Kau mengikutiku? Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku setelah melihat lelaki itu adalah orang menyebalkan yang akhir-akhir ini sering kutemui.
“sudah tidak sedih lagi?” jawabnya tanpa menghiraukan petanyaanku
“kau melihatku menangis waktu itu?”
“apa kau pikir es krim akan berjalan dengan sendirinya?”
“kau yang membawa es krim itu?” tanyaku dengan suara pelan dan merasa ada yang tidak aku sadari
“kau yang memintaku membawanya”
“maksudmu? Aku? Memintamu?” aku semakin bingung tak karuan, apa ini?
“nih” dia meletakan es krim coklat di meja makanku sambil berdiri “jangan menagis lagi” tambahnya kemudian berlalu pergi meninggalkan aku yang masih mematung.
“cie, dia lelaki menyebalkan itu? Tampan” goda Winda padaku.
“aku tak pernah memintanya membawakan es krim, tapi..” aku berpikir sejenak
“astaga memang dia yang muncul di pintu waktu Novan meneleponku” lanjutku tersadar mengenai apa yang telah terjadi.
“maksudmu?” tanya Winda
“Novan meneleponku, aku tak dapat membuka pintu toko karena ada hp dan es krim di tanganku dan dia muncul di depanku, aku menitipkan es krimku padanya, sepertinya dia yang membawakan es krim untukku saat aku sedang menangis dan memakan satu lagi es krim miliknya” jelasku “aaggrrrhhh bodohnya aku, memalukan sekali” tambahku dalam hati.

Di rumah
Malam ini aku tidak membeli es krim karena takut bertemu lelaki itu lagi, aku memakan cemilan yang aku ambil dari kulkas rumah dan mengerjakan skripsiku lagi.

“Tifa sayang?” panggil mama
“iya ma” aku segera menuruni tangga dan menuju ke sumber suara
“kamu ini biasanya beli es krim sendiri, kenapa sekarang delivery, ada-ada saja anak gadis mama ini, tuh mamang es krimnya nunggu di luar” jelas mama
“delivery?” batinku, aku tidak membeli es krim malam ini, lalu siapa yang (sambil berjalan ke luar rumah)

“kau lagi?” tanyaku
“nih?” dia menyodorkan es krim kesukaanku “kau tak datang jadi aku kemari” lanjutnya
“bagaimana kau tau rumahku” tanyaku
“waktu kau menangis aku mengantarmu pulang walaupun kau tak melihatku”
“tapi kau pergi duluan malam itu”
“ya tapi aku kembali karena takut kau mencoba masuk ke dalam danau, tapi ternyata kau pulang sambil menggerutu tentangku dan itu lucu” jawabnya sambil tertawa
Saat lelaki ini tertawa dia sangat manis batinku, oh astaga iblis apa ini yang membuatku berpikir lelaki menyebalkan ini manis.
“baiklah sudah malam, aku pulang” pamitnya “jangan menangis lagi, tersenyumlah kau akan terlihat lebih manis, semanis es krim kesukaanmu” lanjutnya yang kemudian pergi

Seminggu berlalu aku dan lelaki yang hingga kini belum kuketahui namanya itu semakin sering bertemu, namun dia hanya sekedar mengantarkan es krim dan menghiburku kemudian pergi. Malam minggu ini aku diajak mama dan papa untuk acara keluarga, bertemu dengan teman-teman papa dan mama.

“Tifa kenalkan ini Om Andre dan Tante Lyra” kata papaku
“Tivia Arini” kataku sambil berjabat tangan dan tersenyum manis
“anak om si Putra belum datang sayang, om ingin kenalkan dia padamu”
“sibuk anakmu Dre” goda papaku
“kerja terus anak kesayanganku itu sampai lupa jatuh cinta mungkin” canda om Andre
Kini mereka tertawa bersama dan membicarakan hal yang lucu-lucu, melihat hal itu sepertinya mereka sangat akrab.
“ma Om Andre sama papa teman dekat?” tanyaku
“tentu saja, bahkan mama dan Lyra pun sahabat” jawab mama
Kini obrolan mereka tentang perjodohan, oh astaga perasaanku tidak enak.
“itu dia Putra, Putra sini nak” panggil om Andre pada seorang lelaki tinggi setelan rapi dan tampan.
“Kau? Orang menyebalkan itu? Sepertinya kau selalu mengikutiku” gerutuku
“tentu saja, apalagi setelah aku menikahimu aku akan selalu muncul dan membuatmu tersenyum manis” jawabnya
Belum sempat aku menjawab dan mencerna perataannya dia pun duduk ala romeo mengeluarkan kotak kecil berisi cincin cantik “maukah kau menikah denganku Tivia Arini” tanya nya.
“ayolah nak jawablah” goda mama
“tapi ma aku belum mengenalnya”
“kamu mengenalnya sayang dia teman kecil kamu Wirangga Putra, kami menjodohkanmu dengannya” jelas mama
“Rangga? Ini kamu” tanyaku
“iya ini aku” jawabnya sambil tersenyum manis
“ayah tak menyangka Putra akan langsung melamar, padahal kami berencana memperkenalkan kembali kalian terlebih dahulu” papa sambil tertawa dan diikuti tawa seluruh keluarga.

Aku menerima lamaran Rangga dan kami menikah. Ada yang bilang ‘cinta sejati datang diwaktu yang tepat dengan cara terbaik’ sungguh hadiah yang luar biasa untukku adalah kamu.

Cerpen Karangan: Pertiwi
Facebook: Bektii Pertiwi

Cerita Es Krim (Part 2) merupakan cerita pendek karangan Pertiwi, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s