Es Krim (Part 2)

Cerpen Karangan: Pertiwi
Kategori: Cerpen Cinta Romantis

Pagi ini aku dan Winda berangkat ke kampus bersama, pelajaran 3 sks berjalan seperti biasa. “makan yok Tif? Laper banget nih” ajak Winda. “kantin klise aja ya?” tawarku

Kami menuju ke kantin
Pesanan datang dan kami pun melahapnya dengan semangat sambil bercerita mengenai hal-hal yang seru untuk dibahas. Aku dan Winda tak pernah kehabisan bahan cerita, ada saja yang diceritakan dan tentang lelaki itu aku pun telah menceritakannya pada Winda kemarin saat Winda menginap di rumahku.

“hallo nona es krim” sapa seorang lelaki yang tiba-tiba ada di sebelahku
“kau? Kau mengikutiku? Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku setelah melihat lelaki itu adalah orang menyebalkan yang akhir-akhir ini sering kutemui.
“sudah tidak sedih lagi?” jawabnya tanpa menghiraukan petanyaanku
“kau melihatku menangis waktu itu?”
“apa kau pikir es krim akan berjalan dengan sendirinya?”
“kau yang membawa es krim itu?” tanyaku dengan suara pelan dan merasa ada yang tidak aku sadari
“kau yang memintaku membawanya”
“maksudmu? Aku? Memintamu?” aku semakin bingung tak karuan, apa ini?
“nih” dia meletakan es krim coklat di meja makanku sambil berdiri “jangan menagis lagi” tambahnya kemudian berlalu pergi meninggalkan aku yang masih mematung.
“cie, dia lelaki menyebalkan itu? Tampan” goda Winda padaku.
“aku tak pernah memintanya membawakan es krim, tapi..” aku berpikir sejenak
“astaga memang dia yang muncul di pintu waktu Novan meneleponku” lanjutku tersadar mengenai apa yang telah terjadi.
“maksudmu?” tanya Winda
“Novan meneleponku, aku tak dapat membuka pintu toko karena ada hp dan es krim di tanganku dan dia muncul di depanku, aku menitipkan es krimku padanya, sepertinya dia yang membawakan es krim untukku saat aku sedang menangis dan memakan satu lagi es krim miliknya” jelasku “aaggrrrhhh bodohnya aku, memalukan sekali” tambahku dalam hati.

Di rumah
Malam ini aku tidak membeli es krim karena takut bertemu lelaki itu lagi, aku memakan cemilan yang aku ambil dari kulkas rumah dan mengerjakan skripsiku lagi.

“Tifa sayang?” panggil mama
“iya ma” aku segera menuruni tangga dan menuju ke sumber suara
“kamu ini biasanya beli es krim sendiri, kenapa sekarang delivery, ada-ada saja anak gadis mama ini, tuh mamang es krimnya nunggu di luar” jelas mama
“delivery?” batinku, aku tidak membeli es krim malam ini, lalu siapa yang (sambil berjalan ke luar rumah)

“kau lagi?” tanyaku
“nih?” dia menyodorkan es krim kesukaanku “kau tak datang jadi aku kemari” lanjutnya
“bagaimana kau tau rumahku” tanyaku
“waktu kau menangis aku mengantarmu pulang walaupun kau tak melihatku”
“tapi kau pergi duluan malam itu”
“ya tapi aku kembali karena takut kau mencoba masuk ke dalam danau, tapi ternyata kau pulang sambil menggerutu tentangku dan itu lucu” jawabnya sambil tertawa
Saat lelaki ini tertawa dia sangat manis batinku, oh astaga iblis apa ini yang membuatku berpikir lelaki menyebalkan ini manis.
“baiklah sudah malam, aku pulang” pamitnya “jangan menangis lagi, tersenyumlah kau akan terlihat lebih manis, semanis es krim kesukaanmu” lanjutnya yang kemudian pergi

Seminggu berlalu aku dan lelaki yang hingga kini belum kuketahui namanya itu semakin sering bertemu, namun dia hanya sekedar mengantarkan es krim dan menghiburku kemudian pergi. Malam minggu ini aku diajak mama dan papa untuk acara keluarga, bertemu dengan teman-teman papa dan mama.

“Tifa kenalkan ini Om Andre dan Tante Lyra” kata papaku
“Tivia Arini” kataku sambil berjabat tangan dan tersenyum manis
“anak om si Putra belum datang sayang, om ingin kenalkan dia padamu”
“sibuk anakmu Dre” goda papaku
“kerja terus anak kesayanganku itu sampai lupa jatuh cinta mungkin” canda om Andre
Kini mereka tertawa bersama dan membicarakan hal yang lucu-lucu, melihat hal itu sepertinya mereka sangat akrab.
“ma Om Andre sama papa teman dekat?” tanyaku
“tentu saja, bahkan mama dan Lyra pun sahabat” jawab mama
Kini obrolan mereka tentang perjodohan, oh astaga perasaanku tidak enak.
“itu dia Putra, Putra sini nak” panggil om Andre pada seorang lelaki tinggi setelan rapi dan tampan.
“Kau? Orang menyebalkan itu? Sepertinya kau selalu mengikutiku” gerutuku
“tentu saja, apalagi setelah aku menikahimu aku akan selalu muncul dan membuatmu tersenyum manis” jawabnya
Belum sempat aku menjawab dan mencerna perataannya dia pun duduk ala romeo mengeluarkan kotak kecil berisi cincin cantik “maukah kau menikah denganku Tivia Arini” tanya nya.
“ayolah nak jawablah” goda mama
“tapi ma aku belum mengenalnya”
“kamu mengenalnya sayang dia teman kecil kamu Wirangga Putra, kami menjodohkanmu dengannya” jelas mama
“Rangga? Ini kamu” tanyaku
“iya ini aku” jawabnya sambil tersenyum manis
“ayah tak menyangka Putra akan langsung melamar, padahal kami berencana memperkenalkan kembali kalian terlebih dahulu” papa sambil tertawa dan diikuti tawa seluruh keluarga.

Aku menerima lamaran Rangga dan kami menikah. Ada yang bilang ‘cinta sejati datang diwaktu yang tepat dengan cara terbaik’ sungguh hadiah yang luar biasa untukku adalah kamu.

Cerpen Karangan: Pertiwi
Facebook: Bektii Pertiwi

Cerita Es Krim (Part 2) merupakan cerita pendek karangan Pertiwi, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”

Sebuah Janji

Oleh: Rai Inamas Leoni

“Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis…”
***

Bel istirahat akan berakhir berapa menit lagi. Wina harus segera membawa buku tugas teman-temannya ke ruang guru sebelum bel berbunyi. Jabatan wakil ketua kelas membuatnya sibuk seperti ini. Gubrak…. Buku-buku yang dibawa Wina jatuh semua. Orang yang menabrak entah lari kemana. Jangankan menolongnya, meminta maaf pun tidak.

“Sial! Lari nggak pakek mata apa ya…” rutuk Wina. Dengan wajah masam ia mulai jongkok untuk merapikan buku-buku yang terjatuh. Belum selesai Wina merapikan terdengar langkah kaki yang datang menghampirinya.

“Kasian banget. Bukunya jatuh semua ya?” cemoh seorang cowok dengan senyum sinis. Sejenak Wina berhenti merapikan buku-buku, ia mencoba melihat orang yang berani mencemohnya. Ternyata dia lagi. Cowok berpostur tinggi dengan rambut yang selalu berantakan. Sumpah! Wina benci banget sama cowok ini. Seumur hidup Wina nggak bakal bersikap baik sama cowok yang ada di depannya ini. Lalu Wina mulai melanjutkan merapikan buku tanpa menjawab pertanyaan cowok tersebut.

Cowok tinggi itu sepintas mengernyitkan alisnya. Dan kembali ia tercenung karena cewek di depannya tidak menanggapi. Biasanya kalau Wina terpancing dengan omongannya, perang mulut pun akan terjadi dan takkan selesai sebelum seseorang datang melerai.

Teeeett… Bel tanda berakhirnya jam istirahat terdengar nyaring. “Maksud hati pengen bantu temen gue yang jelek ini. Tapi apa daya udah keburu bel. Jadi sori nggak bisa bantu.” ucap cowok tersebut sambil menekan kata jelek di pertengahan kalimat.

Cowok tersebut masih menunggu reaksi cewek yang ada di depannya. Tapi yang ditunggu tidak membalas dengan cemohan atau pun ejekan. “Lo berubah.” gumam cowok tersebut lalu berbalik bersiap masuk ke kelasnya. Begitu cowok itu membalikkan badannya, Wina yang sudah selesai membereskankan buku mulai memasang ancang-ancang. Dengan semangat 45 Wina mulai mengayunkan kaki kanannya kearah kaki kiri cowok tersebut dengan keras.

“Adooooww” pekik cowok tersebut sambil menggerang kesakitan.

“Makan tuh sakit!!” ejek Wina sambil berlari membawa buku-buku yang tadi sempat berserakan. Bisa dibayangkan gimana sakitnya tuh kaki. Secara Wina pakek kekuatan yang super duper keras. Senyum kemenangan menghiasi di wajah cewek tinggi kurus tersebut.
***

“Wina….”

Wina menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata dari kejauhan Amel teman baiknya sejak SMP sedang berlari kearahnya. Dengan santai Wina membalikkan badannya berjalan mencari motor matic kesayangannya. Ia sendiri lupa dimana menaruh motornya. Wina emang paling payah sama yang namanya mengingat sesuatu. Masih celingak-celinguk mencari motor, Amel malah menjitak kepalanya dari belakang.

“Woe non, budeg ya? Nggak denger teriakan gue. Temen macem apaan yang nggak nyaut sapaan temennya sendiri.” ucap Amel dengan bibir monyong. Ciri khas cewek putih tersebut kalo lagi ngambek.

“Sori deh Mel. Gue lagi bad mood, pengen cepet pulang.”

“Bad mood? Jelas-jelas lo tadi bikin gempar satu kelas. Udah nendang kaki cowok ampe tuh cowok permisi pulang, nggak minta maaf lagi.” jelas Amel panjang lebar.

“Hah? Sampe segitunya? Kan gue cuma nendang kakinya, masak segitu parahnya?” Wina benar-benar nggak nyangka. Masa sih keras banget? Tuh cowok ternyata bener-bener lembek, pikirnya dalam hati.

“Nendang sih nendang tapi lo pakek tendangan super duper. Kasian Alex lho.”

“Enak aja. Orang dia yang mulai duluan.” bantah Wina membela diri.

Sejenak Amel terdiam, lalu berlahan bibirnya tersenyum tipis. “Kenapa sih kalian berdua selalu berantem? Masalahnya masih yang itu? Itu kan SMP. Dulu banget. ” ujar Amel polos, tanpa bermaksud mengingatkan kejadian yang lalu. “Lagi pula gue udah bisa nerima kalo Alex nggak suka sama gue.”

“Tau ah gelap!”
***

Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian panas tak menyurutkan niat para siswa SMA Harapan untuk bergegas pulang ke rumah. Wina sendiri sudah membereskan buku-bukunya. Sedangkan Amel masih berkutat pada buku catatanya lalu sesekali menoleh ke papan tulis.

“Makanya kalo nulis jangan kayak kura-kura.” Dengan gemas Wina menjitak kepala Amel. “Duluan ya, Mel. Disuruh nyokap pulang cepet nih!” Amel hanya mendengus lalu kembali sibuk dengan catatanya.

Saat Wina membuka pintu kelas, seseorang ternyata juga membuka pintu kelasnya dari luar. “Eh, sori..” ucap Wina kikuk. Tapi begitu sadar siapa orang yang ada di depannya, Wina langsung ngasi tampang jutek kepada orang itu. “Ngapaen lo kesini? Masih sakit kakinya? Apa cuma dilebih-lebihin biar kemaren pulang cepet? Hah? Jadi cowok kok banci baget!!!”

Jujur Alex udah bosen kayak gini terus sama Wina. Dia pengen hubungannya dengan Wina bisa kembali seperti dulu. “Nggak usah cari gara-gara deh. Gue cuma mau cari Amel.” ucap Alex dingin sambil celingak celinguk mencari Amel. “Hey Mel!” ucap Alex riang begitu orang yang dicarinya nongol.

“Hey juga. Jadi nih sekarang?” Amel sejenak melirik Wina. Lalu dilihatnya Alex mengangguk bertanda mengiyakan. “Win, kita duluan ya,” ujar Amel singkat.

Wina hanya benggong lalu dengan cepat mengangguk. Dipandangi Amel dan Alex yang kian jauh. Entah kenapa, perasaanya jadi aneh setiap melihat mereka bersama. Seperti ada yang sakit di suatu organ tubuhnya. Biasanya Alex selalu mencari masalah dengannya. Namun kini berbeda. Alex tidak menggodanya dengan cemohan atau ejekan khasnya. Alex juga tidak menatapnya saat ia bicara. Seperti ada yang hilang. Seperti ada yang pergi dari dirinya.
***

Byuuurr.. Fanta rasa stowberry menggalir deras dari rambut Wina hingga menetes ke kemeja putihnya. Wina nggak bisa melawan. Ia kini ada di WC perempuan. Apalagi ini jam terakhir. Nggak ada yang akan bisa menolongnya sampai bel pulang berbunyi.

“Maksud lo apa?” bentak Wina menantang. Ia nggak diterima di guyur kayak gini.

“Belum kapok di guyur kayak gini?” balas cewek tersebut sambil menjambak rambut Wina. “Tha, mana fanta jeruk yang tadi?” ucap cewek itu lagi, tangan kanannya masih menjambak rambut Wina. Thata langsung memberi satu botol fanta jeruk yang sudah terbuka.

“Lo mau gue siram lagi?” tanya cewek itu lagi.

Halo??!! Nggak usah ditanya pun, orang bego juga tau. Mana ada orang yang secara sukarela mau berbasah ria dengan fanta stroberry atau pun jeruk? Teriak Wina dalam hati. Ia tau kalau cewek di depannya ini bernama Linda. Linda terkenal sesaentro sekolah karena keganasannya dalam hal melabrak orang. Yeah, dari pada ngelawan terus sekarat masuk rumah sakit, mending Wina diem aja. Ia juga tau kalo Linda satu kelas dengan Alex. Wait, wait.. Alex??? Jangan-jangan dia biang keladinya. Awas lo Lex, sampe gue tau lo biang keroknya. Gue bakal ngamuk entar di kelas lo!

“Gue rasa, gue nggak ada masalah ama lo.” teriak Wina sambil mendorong Linda dengan sadisnya. Wina benar-benar nggak tahan sama perlakuan mereka. Bodo amat gue masuk rumah sakit. Yang jelas ni nenek lampir perlu dikasi pelajaran.

Kedua teman Linda, Thata dan Mayang dengan sigap mencoba menahan Wina. Tapi Wina malah memberontak. “Buruan Lin, ntar kita ketahuan.” kata Mayang si cewek sawo mateng.

Selang beberapa detik, Linda kembali mengguyur Wina dengan fanta jeruk. “Jauhin Alex. Gue tau lo berdua temenan dari SMP! Dulu lo pernah nolak Alex. Tapi kenapa lo sekarang nggak mau ngelepas Alex?!!”

“Maksud lo?” ledek Wina sinis. “Gue nggak kenal kalian semua. Asal lo tau gue nggak ada apa-apa ama Alex. Lo nggak liat kerjaan gue ama tuh cowok sinting cuma berantem?”

Plaakk.. Tamparan mulus mendarat di pipi Wina. “Tapi lo seneng kan?” teriak Linda tepat disebelah kuping Wina. Kesabaran Wina akhirnya sampai di level terbawah.

Buuugg! Tonjokan Wina mengenai tepat di hidung Linda. Linda yang marah makin meledak. Perang dunia pun tak terelakan. Tiga banding satu. Jelas Wina kalah. Tak perlu lama, Wina sudah jatuh terduduk lemas. Rambutnya sudah basah dan sakit karena dijambak, pjpinya sakit kena tamparan. Kepalanya terasa pening.

“Beraninya cuma keroyokan!” bentak seorang cowok dengan tegas. Serempak trio geng labrak menoleh untuk melihat orang itu, Wina juga ingin, tapi tertutup oleh Linda. Dari suaranya Wina sudah tau. Tapi Ia nggak tau bener apa salah.

“Pergi lo semua. Sebelum gue laporin.” ujar cowok itu singkat. Samar-samar Wina melihat geng labrak pergi dengan buru-buru. Lalu cowok tadi menghampiri Wina dan membantunya untuk berdiri. “Lo nggak apa-apa kan, Win?”

“Nggak apa-apa dari hongkong!?”
***

Hujan rintik-rintik membasahi bumi. Wina dan Alex berada di ruang UKS. Wina membaringkan diri tempat tidur yang tersedia di UKS. Alex memegangi sapu tangan dingin yang diletakkan di sekitar pipi Wina. Wina lemas luar biasa. Kalau dia masih punya tenaga, dia nggak bakalan mau tangan Alex nyentuh pipinya sendiri. Tapi karena terpaksa. Mau gimana lagi.

“Ntar lo pulang gimana?” tanya Alex polos.

“Nggak gimana-mana. Pulang ya pulang.” jawab Wina jutek. Rasanya Wina makin benci sama yang namanya Alex. Gara-gara Alex dirinya dilabrak hidup-hidup. Tapi kalau Alex nggak datang. Mungkin dia bakal pingsan duluan sebelum ditemukan.

“Tadi itu cewek lo ya?” ucap Wina dengan wajah jengkel.

“Nggak.”

“Trus kok dia malah ngelabrak gue? Isi nyuruh jauhin lo segala. Emang dia siapa? “ rutuk Wina kesal seribu kesal. Ups! Kok gue ngomong kayak gue nggak mau jauh-jauh ama Alex. Aduuuhh…

Alex sejenak tersenyum. “Dia tuh cewek yang gue tolak. Jadi dia tau semuanya tentang gue dan termasuk tentang lo” ucap Alex sambil menunjuk Wina.

Wina diam. Dia nggak tau harus ngapain setelah Alex menunjuknya. Padahal cuma nunjuk. “Ntar bisa pulang sendiri kan?” tanya Alex.

“Bisalah. Emang lo mau nganter gue pulang?”

“Emang lo kira gue udah lupa sama rumah lo? Jangan kira lo nolak gue terus gue depresi terus lupaen segala sesuatu tentang diri lo. Gue masih paham bener tentang diri lo. Malah perasaan gue masi sama kayak dulu.” jelas Alex sejelas-selasnya. Alex pikir sekarang udah saatnya ngungkapin unek-uneknya.
“Lo ngomong kayak gitu lagi, gue tonjok jidat lo!” ancam Wina. Nih orang emang sinting. Gue baru kena musibah yang bikin kepala puyeng, malah dikasi obrolan yang makin puyeng.

“Perasaan gue masih kayak dulu, belum berubah sedikit pun. Asal lo tau, gue selalu cari gara-gara ama lo itu ada maksudnya. Gue nggak pengen kita musuhan, diem-dieman, atau apalah. Pas lo nolak gue, gue nggak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, kita dapet sekolah yang sama. Gue coba buat nerima. Tapi nggak tau kenapa lo malah diemin gue. Akhirnya gue kesel, dan tanpa sadar gue malah ngajakin lo berantem.” Sejenak Alex menanrik nafas. “Lo mau nggak jadi pacar gue? Apapun jawabannya gue terima.”

Hening sejenak diantara mereka berdua. “Kayaknya gue pulang duluan deh.” Ucap Wina sambil buru-buru mengambil tasnya. Inilah kebiasaan Wina, selalu mengelak selalu menghindar pada realita. Ia bener-bener nggak tau harus ngapaen. Dulu ia nolak Alex karena Amel juga suka Alex. Tapi sekarang?

“Besok gue udah nggak sekolah disini. Gue pindah sekolah.” Alex berbicara tepat saat Wina sudah berada di ambang pintu UKS.

Wina diam tak sanggup berkata-kata. Dilangkahkan kakinya pergi meninggalkan UKS. Meninggalkan Alex yang termenung sendiri.
***

Kelas masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang baru datang. Diliriknya bangku sebelah. Amel belum datang. Wina sendiri tumben datang pagi. Biasanya ia datang 5 menit sebelum bel, disaat kelas sudah padat akan penduduk. Semalam Wina nggak bisa tidur. Entah kenapa bayangan Alex selalu terbesit di benaknya. Apa benar Alex pindah sekolah? Kenapa harus pindah? Peduli amat Alex mau pindah apa nggak, batin Wina. “Argggg… Kenapa sih gue mikir dia terus?”

“Mikirin Alex maksud lo?” ucap Amel tiba-tiba udah ada disamping Wina. “Nih hadiah dari pangeran lo.” Dilihatnya Amel mengeluarkan kotak biru berukuran sedang. Karena penasaran dengan cepat Wina membuka kotak tersebut. Isinya bingkai foto bermotif rainbow dengan foto Wina dan Alex saat mengikuti MOS SMP didalamnya. Terdapat sebuah kertas. Dengan segera dibacanya surat tersebut.

    Dear wina,

    Inget ga pertama kali kita kenalan? Pas itu lo nangis gara-gara di hukum ama osis. Dalam hati gue ketawa, kok ada sih cewek cengeng kayak gini? Hehe.. kidding. Lo dulu pernah bilang pengen liat pelangi tapi ga pernah kesampaian. Semoga lo seneng sama pelangi yang ada di bingkai foto. Mungkin gue ga bisa nunjukin pelangi saat ini coz gue harus ikut ortu yang pindah tugas. Tapi suatu hari nanti gue bakal nunjukin ke lo gimana indahnya pelangi. Tunggu gue dua tahun lagi. Saat waktu itu tiba, ga ada alasan buat lo ga mau jadi pacar gue.

“Kenapa lo nggak mau nerima dia? Gue tau lo suka Alex tapi lo nggak mau nyakitin gue.” sejenak Amel tersenyum. “Percaya deh, sekarang gue udah nggak ada rasa sama Alex. Dia cuma temen kecil gue dan nggak akan lebih.”

“Thanks Mel. Lo emang sahabat terbaik gue.” ucap Wina tulus. “Tapi gue tetap pada prinsip gue.”
Amel terlihat menerawang. “Jujur, waktu gue tau Alex suka sama lo dan cuma nganggep gue sebagai temen kecilnya. Gue pengen teriak sama semua orang, kenapa dunia nggak adil sama gue. Tapi seiring berjalannya waktu gue sadar kalo nggak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita.” senyum kembali menghiasi wajah mungilnya. “Dan lo harus janji sama gue kalo lo bakal jujur tentang persaan lo sama Alex. Janji?” lanjut Amel sambil mengangkat jari kelingkingnya.

Ingin rasanya Wina menolak. Amel terlalu baik baginya. Dia sendiri tau sampai saat ini Amel belum sepenuhnya melupakan Alex. Tapi Wina juga tak ingin mengecewakan Amel. Berlahan diangkatnya jari kelingkingnya.

“Janji..” gumam Wina lirih.
***

By : Rai Inamas Leoni
TTL : Denpasar, 08 Agustus 1995
Sekolah : SMA Negeri 7 Denpasar
Blog : raiinamas.blogspot.com

In Love with You

by Kenneth Koch

O what a physical effect it has on me
To dive forever into the light blue sea
Of your acquaintance! Ah, but dearest friends,
Like forms, are finished, as life has ends! Still,
It is beautiful, when October
Is over, and February is over,
To sit in the starch of my shirt, and to dream of your sweet
Ways! As if the world were a taxi, you enter it, then
Reply (to no one), “Let’s go five or six blocks.”
Isn’t the blue stream that runs past you a translation from the Russian?
Aren’t my eyes bigger than love?
Isn’t this history, and aren’t we a couple of ruins?
Is Carthage Pompeii? is the pillow the bed? is the sun
What glues our heads together? O midnight! O midnight!
Is love what we are,
Or has happiness come to me in a private car
That’s so very small I’m amazed to see it there?

2

We walk through the park in the sun, and you say, “There’s a spider
Of shadow touching the bench, when morning’s begun.” I love you.
I love you fame I love you raining sun I love you cigarettes I love you love
I love you daggers I love smiles daggers and symbolism.

3

Inside the symposium of your sweetest look’s
Sunflower awning by the nurse-faced chrysanthemums childhood
Again represents a summer spent sticking knives into porcelain raspberries, when China’s
Still a country! Oh, King Edward abdicated years later, that’s
Exactly when. If you were seventy thousand years old, and I were a pill,
I know I could cure your headache, like playing baseball in drinking-water, as baskets
Of towels sweetly touch the bathroom floor! O benches of nothing
Appear and reappear—electricity! I’d love to be how
You are, as if
The world were new, and the selves were blue
Which we don
Until it’s dawn,
Until evening puts on
The gray hooded selves and the light brown selves of . . .
Water! your tear-colored nail polish
Kisses me! and the lumberyard seems new
As a calm
On the sea, where, like pigeons,
I feel so mutated, sad, so breezed, so revivified, and still so unabdicated—
Not like an edge of land coming over the sea!

My True Love Has My Heart

by Philip Sidney

My true-love hath my heart and I have his,
By just exchange one for the other given;
I hold his dear and mine he cannot miss;
There never was a better bargain driven.
My true-love hath my heart and I have his,

His heart in me keeps him and me in one;
My heart in him his thoughts and senses guides;
He loves my heart for once it was his own,
I cherish his because in me it bides.
My true-love hath my heart and I have his,

Human Life’s Mystery

by Elizabeth Barrett Browning

We sow the glebe, we reap the corn,
We build the house where we may rest,
And then, at moments, suddenly,
We look up to the great wide sky,
Inquiring wherefore we were born…
For earnest or for jest?

The senses folding thick and dark
About the stifled soul within,
We guess diviner things beyond,
And yearn to them with yearning fond;
We strike out blindly to a mark
Believed in, but not seen.

We vibrate to the pant and thrill
Wherewith Eternity has curled
In serpent-twine about God’s seat;
While, freshening upward to His feet,
In gradual growth His full-leaved will
Expands from world to world.

And, in the tumult and excess
Of act and passion under sun,
We sometimes hear—oh, soft and far,
As silver star did touch with star,
The kiss of Peace and Righteousness
Through all things that are done.

God keeps His holy mysteries
Just on the outside of man’s dream;
In diapason slow, we think
To hear their pinions rise and sink,
While they float pure beneath His eyes,
Like swans adown a stream.

Abstractions, are they, from the forms
Of His great beauty?—exaltations
From His great glory?—strong previsions
Of what we shall be?—intuitions
Of what we are—in calms and storms,
Beyond our peace and passions?

Things nameless! which, in passing so,
Do stroke us with a subtle grace.
We say, ‘Who passes?’—they are dumb.
We cannot see them go or come:
Their touches fall soft, cold, as snow
Upon a blind man’s face.

Yet, touching so, they draw above
Our common thoughts to Heaven’s unknown,
Our daily joy and pain advance
To a divine significance,
Our human love—O mortal love,
That light is not its own!

And sometimes horror chills our blood
To be so near such mystic Things,
And we wrap round us for defence
Our purple manners, moods of sense—
As angels from the face of God
Stand hidden in their wings.

And sometimes through life’s heavy swound
We grope for them!—with strangled breath
We stretch our hands abroad and try
To reach them in our agony,—
And widen, so, the broad life-wound
Which soon is large enough for death.